“Pahlawan” sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, sebuah kata yang mampu membuat sosok seorang individu yang sebelumnya tidak dikenal menjadi diagung agungkan oleh orang lain. Misalnya saja dengan menjadi seorang pahlawan nasional, bahkan sosok wanita sekalipun apabila dia berjuang demi tanah air akan diingat sepanjang masa, tokoh – tokoh seperti Cut Nyak Dien, R.A Kartini, Christina Marta Tiahahu dan lain sebagainya, mereka semua diingat sepanjang masa bahkan masuk kedalam buku buku pelajaran sekolah dan sejarah nasional karena telah menorehkan tinta perjuangan di bumi pertiwi.
Namun, sadarkah kita bahwa sosok pahlawan yang satu ini tidak pernah diingat, padahal mereka yang telah menyumbangkan devisa Negara terbesar kedua setelah Migas yakni sebesar US$ 6.617 miliar pertahunnya.Sosok pahlawan devisa inilah yang kita kenal dengan TKI, mereka dikirim setiap tahunnya sejumlah ribuan untuk bekerja menjadi “babu” di negeri orang.Padahal para pahlawan devisa ini yang hampir semuanya dalah perempuan mengalami tindakan yang semena – mena diluar negeri. Tindakan kekerasan yang mereka terima baik itu pemerkosaan, penganiyaan , tidak digaji dan berbagai macam jenis kekerasan lainnya yang sangat tidak layak dilakukan kepada sesama manusia karena sangat bertentangan dengan hak asasi manusia.
Para TKI yang menerima tindakan kekerasan itu bahkan mencapai jumlah 2.048 orang di Arab Saudi ,lalu bagaimana dengan yang berada di Negara lainnya seperti di Malaysia, singapura dan lain sebagainya, apalagi pemerintah kita hanya bisa menutup mata melihat realita seperti ini.
Memang benar pemerintah mengurusi para perempuan - perempuan yang menjadi pahlawan devisa itu diluar negeri dengan mengusut kasusnya tapi, apakah hal hal seperti itu cukup, karena kita tahu bahwa dengan mengatasi setelah berbagai tindak kekerasan terjadi hanya akan sedikit berpengaruh.Kenapa tidak pernah terfikirkan untuk melakukan tindakan preventif, agar para TKI itu tidak mendapat masalah setiap saat.
Serta kenapa tidak pernah terfikirkan harga diri bangsa ini mau dibawa kemana??? Apabila hanya memperhatikan pemasukan Negara tanpa melihat realitas yang ada dari mana pemasukan itu berasal dan bagaimana cara mendapatkannya .Apakah sudah benar dengan mengorbankan para warga Negara untuk bekerja dinegeri orang dengan label “babu” ??.
Tidakkah lebih layak dengan mengusahakan lapangan kerja yang lebih luas di dalam negeri sendiri?
Solusi yang bisa ditempuh pemerintah bisa saja dengan menciptkan lapangan kerja yang lebih luas dan juga melatih para tenaga kerja wanita itu untuk bias kreatif , dan menciptakan lapangan kerja sendiri serta memiliki daya saing.Karena, dengan cara ini maka usaha- usaha dalam negeri pasti akan sangat berkembang pesat, Negara kita punya SDA yang melimpah ruah, Negara kita juga punya SDM yang cukup untuk mengolahnya , namun selalu dipermasalahkan tidak adanya tenaga kerja yang kompeten sehingga selalu berakhir dikirim menjadi TKI.Padahal dengan melatih mereka akan keterampilan sudah barang tentu keadaannya akan berbeda.
Sebab, kalau persoalan tenaga kerja ini hanya dibiarkan berlarut larut tanpa langkah yang konkret maka lima bahkan puluhan tahun kedepan, keadaannya tidak akan banyak berubah.Kekerasan kepada TKI hanya menjadi hiasan semata dilayar kaca, dan media cetak dan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia hanya akan bisa menangis melihat nasib srikandi srikandi bumi pertiwi yang bernasib naas diluar negeri tanpa uluran tangan siapapun yang akan bisa membantunya.
(KETIKA MAHASISWA MELIHAT MASALAH NEGARA)
yaa beginilah tulisannya
betul....betul....betul
SRIKANDI DEVISA NEGARA KITA GAn

Tidak ada komentar:
Posting Komentar